The Ship of Fools
kritik politik tentang siapa yang sebenarnya layak memimpin sebuah negara
Bayangkan kita sedang berada di sebuah kapal pesiar raksasa. Cuaca tiba-tiba memburuk. Gelombang badai setinggi gedung lima lantai mulai menghantam lambung kapal. Siapa yang kita harapkan ada di balik kemudi saat itu? Logikanya, pasti seorang kapten berpengalaman yang paham ilmu astronomi dan membaca peta cuaca, bukan? Tapi anehnya, di kapal yang kita tumpangi ini, para penumpang malah mengadakan voting dadakan. Mereka mengabaikan sang navigator ahli yang sedang sibuk dan diam di pojokan mengkalkulasi arah angin. Penumpang justru bersorak memilih pria paling berisik di bar kapal, hanya karena ia berteriak dengan sangat percaya diri bahwa badai ini cuma mitos belaka. Konyol sekali, bukan? Tapi sadarkah teman-teman, skenario absurd ini adalah cerminan akurat dari bagaimana kita sering memilih pemimpin negara kita sendiri? Mari kita duduk sebentar dan membongkar sebuah fenomena usang yang, sayangnya, makin mengerikan hari ini.
Sekitar dua ribu tahun lalu, filsuf Yunani bernama Plato menulis sebuah alegori atau perumpamaan yang sangat tajam berjudul The Ship of Fools atau Kapal Orang-Orang Bodoh. Plato membayangkan sebuah kapal di mana pemilik aslinya punya penglihatan dan pendengaran yang buruk. Di dek kapal, para pelaut saling sikut dan bertengkar hebat tentang siapa yang paling berhak menyetir. Ironisnya, tidak satu pun dari pelaut itu pernah belajar ilmu navigasi. Mereka membius si pemilik kapal dengan minuman keras dan rayuan manis, lalu mengambil alih kemudi untuk sekadar bersenang-senang. Pertanyaannya, kenapa kita sebagai manusia beradab terus-menerus mengulangi tragedi kapal Plato ini? Mengapa kita sering kali secara sadar menyerahkan kemudi negara kepada mereka yang jago memanipulasi, alih-alih mereka yang jago menavigasi? Untuk menjawabnya, kita tidak bisa hanya menyalahkan politik. Kita harus menengok ke dalam tengkorak kepala kita sendiri, karena sains punya penjelasan yang cukup menampar.
Secara biologis, otak manusia purba kita berevolusi untuk merespons ancaman seketika, bukan masalah jangka panjang yang rumit. Di padang sabana masa lalu, ketika ada singa mendekat, kita tidak butuh sosok pemimpin yang berdebat soal probabilitas arah angin. Kita butuh sosok alpha yang berteriak lantang, "Lari ke sana!" Kepercayaan diri yang tinggi menjadi sinyal kompetensi mutlak yang ditangkap oleh insting primitif kita. Masalahnya, memimpin sebuah negara dengan inflasi ekonomi, krisis iklim, dan geopolitik bukanlah sekadar lari dari singa. Di sinilah ilmu psikologi membawa kita pada sebuah temuan yang disebut Dunning-Kruger effect. Ini adalah bias kognitif di mana orang dengan kemampuan paling rendah justru menderita ilusi superioritas. Mereka miskin ilmu, tapi sangat yakin bahwa mereka jenius. Sebaliknya, para ahli sungguhan—seperti navigator diam di kapal tadi—justru sering tampak ragu-ragu karena mereka tahu persis seberapa kompleks masalah yang dihadapi. Dampaknya fatal. Orang yang tidak kompeten tapi berisik terlihat sangat meyakinkan, sementara orang pintar yang hati-hati malah terlihat lemah. Bukankah kita sering melihat pertunjukan ini di setiap musim kampanye?
Lalu, siapa sebenarnya yang paling bersalah di kapal orang-orang bodoh ini? Inilah realita terbesarnya, teman-teman. Tersangka utamanya bukanlah para politisi yang haus kuasa itu. Secara evolusioner, mereka hanya sedang memainkan insting dasar untuk mendominasi kelompok. Masalah sebenarnya adalah kita. Ya, kita. Dalam cerita Plato tadi, pemilik kapal yang rabun dan mudah dibius itu adalah representasi dari rakyat. Kita sering membiarkan apa yang disebut oleh para pakar neurosains sebagai cognitive ease atau kemudahan kognitif. Otak kita didesain untuk pelit membakar kalori. Mendengarkan janji-janji heroik yang sederhana—"Pilih saya, harga sembako murah besok pagi!"—jauh lebih hemat energi bagi otak daripada harus menganalisis data rekam jejak yang rumit. Para pembajak kapal ini sangat paham celah neurobiologis tersebut. Mereka meretas rasa takut dan harapan kita dengan presisi tinggi. Mereka tidak butuh kompas dan peta, mereka hanya butuh megafon untuk menguasai panggung emosi kita.
Jadi, bagaimana cara kita menyelamatkan diri dari paradoks ini? Saya tidak sedang mengajak kita untuk menjadi sinis atau kehilangan harapan. Justru sebaliknya. Menyadari kelemahan biologis dan psikologis kita sendiri adalah langkah pertama yang sangat krusial. Kita harus mulai melatih otak kita secara sadar untuk menahan diri dari godaan memilih mereka yang paling keras berteriak. Pemimpin sejati di era modern tidak selalu mereka yang tampil bak pahlawan tanpa cacat yang menjanjikan langit cerah tak berawan. Pemimpin yang layak adalah mereka yang dengan jujur menunjukkan di mana letak sekoci penyelamat dan bagaimana cara kita bekerja sama menambal lambung kapal jika badai terburuk datang. Memilih pemimpin bukanlah sebuah kontes popularitas atau ajang pencarian bakat. Ini adalah soal memastikan kapal yang berisi nyawa jutaan orang ini tidak karam hanya karena ego segelintir penumpang. Teman-teman, kemudi negara ini pada akhirnya ada di tangan kita yang mau berpikir sedikit lebih keras. Mari kita berhenti menyerahkan kunci kapal ini kepada mereka yang hanya pandai membuat keributan, karena sudah waktunya kita mencari sang navigator sejati.